Memahami Pentingnya Aspek ESG dalam Penilaian
Rabu (22/11/2023) kemarin, bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Pusat Pembinaan Profesi Keuangan (P2PK) Kementerian Keuangan, Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI) menyelenggarakan Pendidikan Profesional Berkelanjutan (PPL) bertema “Penilaian Environmental, Social, and Governance (ESG)”.
PPL yang dilaksanakan di Bogor, Jawa Barat, ini menghadirkan tiga narasumber. Yang pertama adalah Stella Septania Farronikka, ESG Senior Manajer PwC Indonesia. Ia membawakan materi berjudul “Pengenalan ESG dalam Perusahaan Publik”. Kedua, Triono Soedirdjo, Valuation Partner PwC Indonesia. Ia membawakan materi berjudul “Aspek ESG dalam Penilaian”. Dan, ketiga, Ignatius Deny Wicaksono, Head of Business Development IDX, menyajikan makalah berjudul “Promoting Sustainable Investment in Indonesia Capital Market” dan “IDX Carbon”.
Sebagai pemateri pada sesi pertama, Stella Farronikka banyak membahas tentang pentingnya membangun reputasi perusahaan melalui ESG, yang dia sebut berbeda dengan sustainability, namun keduanya saling terkait. Menurutnya, ESG mencakup tiga aspek utama, yaitu lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan. Sedangkan, sustainability lebih fokus pada aspek lingkungan dan sosial.
Dalam era ESG ini, menurut Stella, perusahaan harus dapat mengukur kinerja mereka terhadap ambang batas lingkungan dan sosial, dan melaporkannya secara transparan kepada para pemangku kepentingan. Risiko dari tidak melakukannya adalah kehilangan kepercayaan dari para pemangku kepentingan dan dampak negatif pada reputasi perusahaan. “Oleh karena itu, perusahaan harus membangun rumah ESG yang kuat dengan memperhatikan faktor-faktor seperti kebijakan, prosedur, dan praktik yang berkelanjutan,” ujarnya.
Selain itu, Stella menegaskan, perusahaan juga harus memperhatikan konsep double materiality dan dynamic materiality dalam konteks keuangan berkelanjutan. Double materiality mengacu pada dampak yang dihasilkan oleh perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat, serta dampak yang dihasilkan oleh perubahan lingkungan dan sosial terhadap perusahaan. Sementara itu, dynamic materiality mengacu pada perubahan dalam faktor-faktor material yang mempengaruhi kinerja perusahaan dari waktu ke waktu.
Stella juga mengingkatkan bahwa dalam era ESG, perusahaan harus dapat melaporkan kinerja ESG/sustainability secara akurat dan transparan. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan kerangka kerja pelaporan ESG yang telah diakui secara internasional, seperti Global Reporting Initiative (GRI) dan Sustainability Accounting Standards Board (SASB). “Melalui pelaporan ESG yang transparan, perusahaan dapat membangun kepercayaan dan reputasi yang baik di mata para pemangku kepentingan,” tegasnya.
Penerapan ESG ini, menurut Stella, juga berdampak pada penilaian aset perusahaan. Karena itu, lanjutnya, dalam melakukan penilaian aset, penilai harus memperhatikan faktor ESG. Hal ini dapat dilakukan dengan mempertimbangkan dampak lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan terhadap nilai aset. Dengan memperhitungkan faktor ESG dalam penilaian aset, lanjut Stella, penilai dapat memberikan informasi yang lebih lengkap dan akurat kepada para pemangku kepentingan.
Stella juga mengingatkan, penilai harus memperhatikan konsep double materiality dan dynamic materiality dalam melakukan penilaian aset. Selain itu, penilai juga harus memperhatikan kerangka kerja pelaporan ESG yang telah diakui secara internasional, seperti GRI dan SASB.
“Dengan memperhatikan kerangka kerja pelaporan ESG, penilai dapat memastikan bahwa informasi yang mereka berikan tentang nilai aset didasarkan pada standar yang diakui secara internasional dan dapat dipercaya oleh para pemangku kepentingan,” ujar Stella.
Selanjutnya, pada sesi kedua Triono Soedirdjo menjelaskan informasi yang berharga tentang peran aspek ESG dalam pengambilan keputusan investasi dan penilaian. Penerapan ESG, menurutnya, pasti berdampak pada harga saham dan penilaian aset perusahaan. Karena itu, menurutnya, penting untuk mengetahui bagaimana menilai, mengintegrasikan, dan mengelola risiko ESG dalam penilaian bisnis dan real estate.
Untuk itu, Triono Soedirdjo menyampaikan cara mempelajari perbedaan antara investasi tradisional, bertanggung jawab, berkelanjutan, dan dampak. Investasi tradisional, menurutnya, hanya fokus pada pengembalian keuangan, sementara investasi bertanggung jawab mempertimbangkan faktor ESG selain pengembalian keuangan. Sedangkan, investasi berkelanjutan bertujuan untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi investor dengan mempertimbangkan faktor ESG. Sementara, investasi dampak, menurutnya, bertujuan untuk menghasilkan hasil sosial dan lingkungan yang positif selain pengembalian atas investasi (return on investment).
Triono Soedirdjo juga menjelaskan bagaimana integrasi ESG dapat menciptakan nilai jangka panjang bagi investor. Perusahaan yang memprioritaskan faktor ESG, menurutnya, lebih mungkin memiliki model bisnis yang berkelanjutan dan lebih baik dalam mengelola risiko dan peluang. “Hal ini dapat mengarah pada peningkatan kinerja keuangan dan penciptaan nilai jangka panjang bagi investor,” ujarnya.
Dalam penilaian real estate, demikian Triono Soedirdjo menjelaskan, risiko ESG dapat memengaruhi nilai aset real estate, dan investor perlu mempertimbangkan risiko ini saat menilai aset real estate. Triono Soedirdjo menyebut beberapa contoh risiko ESG, seperti perubahan iklim, ketidakstabilan sosial, dan masalah tata kelola.
Dalam penilaian bisnis, menurutnya, kerangka kerja keberlanjutan memberikan cara untuk menilai keberlanjutan model bisnis perusahaan. Sementara, kerangka kerja kematangan investasi memberikan cara untuk menilai kematangan praktik ESG perusahaan. “Dalam rangka menciptakan nilai jangka panjang bagi investor, penting bagi investor untuk menilai, mengintegrasikan, dan mengelola risiko ESG dalam keputusan investasi dan penilaian,” tuturnya.
Triono Soedirdjo menekankan bahwa penilai perlu mempertimbangkan faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola dalam penilaian bisnis dan real estate. “Sebab, perusahaan yang memprioritaskan faktor ESG lebih mungkin memiliki model bisnis yang berkelanjutan dan lebih baik dalam mengelola risiko dan peluang,” tandasnya.
Semantara itu, dalam kesempatan tersebut Ignatius Deny Wicaksono mempromosikan investasi berkelanjutan di Pasar Modal dengan mengeksplorasi pentingnya ESG dalam pengambilan keputusan investasi. “ESG ini dapat membantu bisnis menjadi lebih berkelanjutan dan etis,” ujar Deny Wicaksono.
Bursa Efek Indonesia, menurutnya, akan terus mempromosikan investasi berkelanjutan di Pasar Modal. Ia juga menekankan perlunya kerja sama antara pemangku kepentingan, termasuk investor, regulator, dan para emiten, untuk mempromosikan praktik investasi berkelanjutan. Karena itu, ia juga meminta kepada penilai untuk mempertimbangkan faktor-faktor ESG saat melakukan penilaian terhadap aset perusahaan.
“Ini termasuk menilai dampak lingkungan perusahaan, tanggung jawab sosial, dan praktik tata kelola. Karena, faktor-faktor ini dapat memiliki dampak signifikan pada nilai jangka panjang perusahaan,” ujar Deny Wicaksono. Untuk ini, Deny Wicaksono juga meminta kalangan penilai mengikuti tren penerapan ESG dan regulasinya yang perkembangannya sangat cepat.
Dalam konteks tersebut, Deny Wicaksono memandang penilai dapat memainkan peran penting dalam mempromosikan praktik investasi berkelanjutan terutama di Pasar Modal. Termasuk, advokasi untuk integrasi faktor-faktor ESG dalam pengambilan keputusan investasi. “Di sini penilai akan berkontribusi pada lingkungan bisnis yang lebih berkelanjutan dan etis,” ujarnya.
Like, Comment, Share akan sangat membantu publikasi