Cerita di Balik Penyaluran Bantuan MAPPI Peduli Tahap I : Dari Sewa 3 Sampan hingga Pengungsian di Mushola
Kota Padang—Di mana pun tanah dipijak, lumpur akan selalu memberi bercak pada kaki-kaki relawan yang tengah mengantarkan bantuan bagi para korban banjir dan tanah longsor di beberapa kabupaten dan kota di provinsi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat.
Saat menyusuri jalan, di kanan-kiri terlihat rumah yang sudah porak-poranda. Di beberapa tempat terlihat para warga masih sibuk membersihkan rumahnya yang terendam lumpur. Di lokasi lain, jembatan yang menjadi satu-satunya akses menuju ke desa seberang terputus karena galodo.
Inilah potret nyata yang dihadapi oleh para relawan dari Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI) saat menyalurkan bantuan dari para donatur bagi para korban bencana banjir dan longsor di wilayah Sumatra Barat dan Sumatra Utara. Sebuah perjalanan yang tidak sekadar mengantar logistik, tetapi juga menyampaikan kepedulian dan harapan.
Para relawan dari Dewan Pengurus Daerah (DPD) MAPPI Sumatra Utara (Sumut) dan Aceh, misalnya. Guna menyalurkan bantuan di Desa Pantai Cermin, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, mereka harus menempuh jalur yang tidak biasa. Jembatan menuju ke wilayah tersebut terputus total. Relawan dari DPD MAPPI Sumut dan Aceh pada penyaluran bantuan MAPPI Peduli Tahap I baru mampu memberikan bantuan di 4 desa di Kabupaten Langkat.
Relawan pun menggantungkan satu-satunya akses menuju desa tersebut dengan menggunakan sampan yang waktu tempuhnya sekitar 45 menit sekali jalan. Ada sekitar 1.200 warga yang masih tinggal dan terisolasi di Desa Pantai Cermin tanpa sentuhan bantuan selama lebih dari sembilan hari.

Untuk mengangkut obat-obatan, pakaian layak pakai, ratusan paket sembako dan lebih dari 1.000 makanan siap saji, tim relawan harus menggunakan tiga sampan agar sampai ke lokasi.
“Alhamdulillah, mereka sangat bersyukur karena akhirnya ada bantuan yang masuk,” tutur Gandung Atmaji, Sekretaris DPD MAPPI Sumut dan Aceh menggambarkan kondisi di lapangan.
Kondisi yang tak jauh berbeda juga terjadi di Desa Batu Busuak, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Di desa yang mengalami bencana terparah di Kota Padang ini, lebih dari 30 rumah telah hanyut tak terelakkan karena tersapu banjir hebat.
Banyak fasilitas umum seperti jembatan ambruk dilanda banjir yang membawa serta material berat seperti batu, kayu dan pepohonan yang tumbang. Akibatnya, akses jalan pun terputus dan bantuan tidak dapat tersalurkan ke berbagai lokasi yang terisolir. Banyak rumah hancur dan tak lagi bisa dihuni.
Tim relawan dari DPD MAPPI Sumatra Barat (Sumbar) yang akan mengantarkan bantuan harus berjibaku dengan lumpur dan banjir. Setelah mendapatkan kepastian apa saja kebutuhan pokok yang benar-benar dibutuhkan bagi para korban bencana banjir, sesegera mungkin tim bergerak untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Donasi dari para Anggota MAPPI yang telah dibelanjakan kebutuhan perlengkapan dapur, selimut, setelan pakaian bagi anak-anak, selimut dan lainnya terpaksa harus diantar ke tempat pengungsian dengan berjalan kaki.
Veerdes Riyantika, salah satu relawan dari DPD MAPPI Sumbar mengatakan bahwa tim relawan tidak bisa mencapai lokasi karena jalan terputus. Warga yang rumahnya hanyut oleh galodo terpaksa mengungsi di mushola dan sekolah yang tidak terdampak banjir. Ada juga warga yang menyelamatkan diri ke rumah kerabat.
“Bantuan kemudian kami salurkan melalui posko-posko pengungsian dan dibagikan kepada warga secara merata dibantu ketua RT setempat,” ungkap Veerdes.
Menurut kesaksian para warga yang tinggal di desa tersebut, sesekali kondisi kembali memburuk lantaran intensitas curah hujan masih tinggi. Debit aliran sungai naik dan jumlah rumah yang hanyut pun kian bertambah.
Penyaluran Bantuan MAPPI Peduli Tahap II
Penyaluran bantuan bagi korban terdampak banjir dan tanah longsor di Sumut dan Sumbar melalui program MAPPI Peduli Tahap I mungkin telah selesai dilakukan, tetapi cerita dan derita di lapangan belum tamat. Banjir bandang bisa surut, akses jalan bisa dibuka kembali, namun semua itu menyisakan kepedihan dan air mata bagi warga yang terdampak bencana.
Amanah bantuan dari para Anggota MAPPI akan terus diupayakan agar sampai kepada mereka yang paling membutuhkan. Bantuan MAPPI Peduli Tahap II telah terkumpul dana lebih dari Rp 70 juta. Diharapkan bantuan dari para dermawan Tahap II ini dapat kembali menembus jarak, waktu dan keterbatasan akses.
Sekretaris Umum MAPPI Pusat, Nur Ali Nugroho, menyampaikan terima kasih kepada para Anggota MAPPI yang telah menyumbangkan sebagian rejekinya bagi para korban bencana di Aceh, Sumut dan Sumbar. Pihaknya juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh badan organisasi, khususnya DPD MAPPI Sumut dan Aceh dan DPD MAPPI Sumbar yang telah bekerja maksimal menyalurkan bantuan di tengah keterbatasan akses.
“Yang faham betul bagaimana kondisi di lapangan adalah teman-teman relawan di daerah, baik di Kota Medan maupun di Kota Padang. Teman-temanlah yang memetakan mana saja yang bisa kita jangkau dan kita berikan bantuan sehingga bantuan bisa benar-benar tersalurkan ke yang paling membutuhkan,” ujar Nur Ali.
Ketua DPD MAPPI Sumut dan Aceh, Suherwin mengatakan bahwa rencana penyaluran bantuan MAPPI Peduli tahap lanjutan sudah disusun. Apabila memungkinkan, tim relawan DPD akan mencoba memetakkan akses jalan yang bisa masuk ke wilayah Aceh Tamiang dan Bener Meriah.
“Sebelumnya kami pakai kendaraan pribadi menuju lokasi bencana, tapi coba kita rencanakan jangkau menggunakan truk atau mobil pikap,” papar Suherwin.
Sementara di Sumatra Barat, tim relawan DPD Sumbar akan kembali turun ke lapangan untuk survei awal guna memastikan bantuan tahap kedua benar-benar sampai ke lokasi yang paling membutuhkan.
Penulis : Farid Syah
Penyunting : Eka Vanda
Like, Comment, Share akan sangat membantu publikasi










